IPB’s member
IPB Badge
Keepin’ Rocks!
IPB Badge

Dengan adanya krisis ekonomi dan krisis moneter serta adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah dilaksanakan menyebabkan kegiatan pertanian kurang mendukung peningkatan pendapatan petani dan telah menimbulkan permasalahan lanjutan sebagai berikut : 1. Alokasi sumberdaya yang dimiliki petani dalam memberikan pendapatan dan perubahan yang dilakukan belum memberikan pendapatan optimal 2. Usaha pengembangan kelembagaan belum memperlihatkan perbaikan distribusi pendapatan petani. 3. Struktur kelembagaan ekonomi pedesaan sebagai sistem pendukung pada suatu usaha tani yang belum dapat meningkatkan pendapatan petani. Dengan adanya permasalahan tersebut di atas, tujuan dari kegiatan ini adalah : 1. Mahasiswa dan petani mitra dapat berpraktek di lapangan dalam melakukan peningkatan pendapatan melalui optimalisasi produksi, pasca panen dan pemasaran dalam kelompok usaha bersama 2. Mahasiswa dan petani mitra diharapkan dapat memberdayakan kembali kelompok-kelompok tani yang sudah menurun aktivitasnya.

 

sumber: Repository of IPB

Testing blog aja gan..

Bogor adalah sebuah daerah yang berada di Provinsi Jawa Barat, Indonesia.  Sebagai sebuah daerah yang berada di wilayah negara Indonesia pastilah Bogor pun memiliki pertanian.  Hal ini dapat dibuktikan dan didukukung kuat dengan dijadikannya Bogor sebagai pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional serta berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi yang berdiri sejak abad ke-19.  Salah satunya yaitu, Institut Pertanian Bogor yang telah berdiri sejak awal abad ke-20.  Banyaknya  lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi yang berdiri sejak abad ke-19 menandakan bahwa Bogor sangat berpotensial dalam pertaniannya, namun bagaimankah kondisinya saat ini?

Kondisi pertanian di Bogor saat ini bisa dibilang masih relatif baik, karena masih banyaknya sawah, kebun-kebun, peternakan, tambak, dan lain sebagainya.  Hal ini didukung karena Bogor memiliki topografi yang menguntungkan untuk pertanian yaitu terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m di atas permukaan laut.  Sehingga menyebabkan Bogor memiliki udara yang relatif sejuk dengan suhu rata-rata setiap bulannya di Bogor adalah 26 ­oC dan kelembaban  udaranya kurang lebih 70%.  Ditambah lagi dengan curah hujan yang tinggi, semakin mendukung pertanian Bogor menjadi baik karena mempermudah pengairan pada sawah dan perkebunan-perkebunan.

Namun, untuk beberapa daerah sudah mulai berkurang lahan untuk pertaniannya karena banyaknya lahan yang kebanyakan diubah menjadi rumah toko (ruko) dan kompleks perumahan.  Biasanya kejadian tersebut terjadi pada daerah yang berada di perbatasan antara daerah kota dan kabupaten.

Bogor termasuk ke dalam wilayah Jawa Barat bagian tengah, dimana pada wilayah tersebut sangat berpotensi untuk memproduksi padi, palawija, sayur-sayuran dan hortikultura semusim.

Produk unggulan pertanian dari Bogor  adalah talas.  Talas merupakan produk pertanian yang paling terkenal dari Bogor.  Talas Bogor (Colocasia giganteum) merupakan tumbuhan penghasil umbi dimana tumbuhan ini mirip dengan taro namun menghasilkan umbi yang lebih besar.  Umbi talas dapat diolah dengan dikukus, direbus, atau pun digireng setelah dipotong-potong kecil.  Di Bogor sendiri talas sering diolah menjadi kripik, gorengan, serta menjadi tambahan kolak.  Selain talas, ada juga ubi jalar, ketimun, nanas mahkota, manggis, markisa, durian, kentang, wortel, papaya arum bogor, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

 

oleh : Ari Adinugraha (F34110023)

 

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor – sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.

Namun, data di atas semakin lama semakin berkurang jumlahnya.  Sungguh ironis memang, dahulu negara kita mendapat julukan negara agraris karena keberhasilan dan kemajuannya di bidang pertanian tapi sekarang banyak sekali petani yang menjadi pengangguran dan bahkan hasil pertanian kita kalah oleh produk-produk impor.  Ada banyak seklai faktor yang menyebabkan keadaan tersebut terjadi di negara ini yang diantaranya adalah sumber daya insani (SDI), sumber daya alam (SDA), sumber daya teknologi (produksi pertanian), dan masalah permodalan.

Sumber daya insani atau biasa dikenal dengan istilah sumber daya manusia menjadi salah faktor yang menyebabkan kemerosotan keunggulan pertanian Indonesia.  Faktor ini muncul karena masalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak tapi tidak bisa dibina secara maksimal yang khususnya untuk sector pertanian Indonesia. Selain itu, karena kurangnya keterampilan dari para petani sehingga mereka belum siap dalam menghadapi era globalisasi yang serba modern ini dan juga karena besarnya angka urbanisasi yang terjadi sehingga perbandingan jumlah SDM di desa dan di kota tidak merata.

Selanjutnya faktor sumber daya alam. Faktor ini berkaitan dengan ketersediaan lahan untuk melakukan kegiatan pertanian.  Faktor ini muncul karena belum terciptanya sistem yang adil dalam pemanfaatan lahan pertanian (pemilik vs pengusaha) serta konversi dan hak kepemilikian lahan pertanian yang tidak jelas.  Saat ini banyak sekali lahan pertanian yang dibabat menjadi gedung-gedung maupun menjadi pemukiman masyarakat sekitar.  Hal tersebut semakin membuat kesempatan meningkatan keunggulan sector pertanian Indoesia menjadi kecil.

Untuk masalah teknologi, para petani Indonesia masih belum bisa beradaptasi dengan semakin majunya teknologi yang bahkan sampai denga sektor pertanian.  Kalau pun ada yang bisa beradaptasi dengan teknologi tersebut, biasanya masalah yang dikeluhkan adalah mahalnya modal yang diperlukan dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

Berbicara tentang modal, sering sekali para petani mengeluhkan masalah tersebut.  Biasanya masalah modal ini muncul karena investasi yang lemah, modal yang seadanya (tidak dikelola dengan strategi yang tepat), nilai tukar produk pertanian yang rendah, serta maraknya KKN pada instansi yang berkaitan dengan pertanian.

Pemerintah seharusnya segera tanggap dalam memberikan solusi yang ada serta melakukan pengawasan terhadap solusi yang diberikan agar mengetahui damapk apa yang ditimbulkan dari solusi yang diberikan. Tak lupa membangun hubungan komunikasi yang baik dengan para pelaku pertanian.

 

 

 

 

Oleh : Ari Adinugraha (F34110023)